SAAT-SAAT Hari Raya Qurban (Idul Adha), para penginjil getol menyerang
syariat qurban. Seorang penginjil yang mengaku bernama Kalangi menulis
artikel berjudul "Syariat Qurban Di Hari Raya Haji, Kini Perlu
Dipertanyakan Muslim" di website http://www.###ring-islam.org.
Kalangi menuding umat Islam salah kaprah merayakan hari Idul Qurban
karena konsep qurban dalam Al-Qur'an tidak jelas, sedangkan konsep
Alkitab (Bibel) sangat jelas dan rasional. Demikian kutipannya:
"Adakah dikatakan di dalam Alkitab dan Al-Qur'an bahwa Ismael itu anak
pengorbanan? Banyak Muslim belum tahu, bahwa jawabannya adalah tidak
ada! Alkitab menegaskan anak itu adalah Ishak, Ishak, dan tak lain
daripada Ishak! Sebaliknya Qur'an ragu-ragu, dan hanya berkata dalam
kekaburan bahwa anak itu adalah "anak" Ibrahim. Kisah Ishak sebagai
anak-pengorbanan telah tertulis di Kitab Taurat 2600 tahun sebelum
Muhammad dilahirkan. Semua nabi-nabi Tuhan tahu bahwa Ishak itulah
anak-yang ingin dikurbankan, tak ada ceritanya sama sekali tentang
Ismail yang "punah" dari sejarah."
Kemudian Penginjil Kalangi mengutip Al-Qur'an surat Ash-Shaffat
100-109 yang menjelaskan asal-usul qurban. Menurut Kalangi, ayat-ayat
Al-Qur'an tersebut sama sekali tidak menyebutkan bahwa anak Nabi
Ibrahim yang akan dikurbankan adalah Ismail, demikian kutipannya:
"Apa yang dapat Anda lihat? Benar, tak ada muncul nama "Ismail" di
situ sebagai anak sembelihan. Kosong! Dan di manapun di Qur'an, nama
anak-pengurbanan itu dikosongkan oleh Muhammad. Yang ada disebut cuma
"sang anak". Tentu hal semacam ini bukan hal yang kebetulan, melainkan
dengan sengaja atau terpaksa."
Kesimpulan Penginjil Kalangi itu seratus persen salah, akibat mengutip
Al-Qur'an surat Ash-Shaffat tak utuh, hanya sampai ayat ke-109.
Seharusnya, jika mengkaji secara benar dan fair, dia harus mengutip
utuh hingga ayat 112.
Bila dibaca utuh ayat 100-112, terutama dengan pemahaman kaidah bahasa
yang benar, maka akan terasa betapa indahnya sastra Al-Qur'an dalam
mengisahkan keteguhan Nabiyullah Ibrahim dan putranya Nabi Ismail.
Keteguhan iman dua orang nabi ayah dan anak yang diabadikan dalam
syariat Idul Qurban.
Bacalah dengan teliti ayat 99-111, dikisahkan tentang tahapan ujian
Allah kepada Ibrahim untuk menyembelih anak kandung yang shalih.
Singkat kata, karena keikhlasan, kesabaran dan kepatuhan Ibrahim
kepada Allah sudah teruji, maka ketika hendak disembelih, Allah
menggantikannya dengan seekor sembelihan (kambing) yang besar (bi
dzibhin 'adhim).
Memang, dalam kisah penyembelihan itu sama sekali tidak disebutkan
secara tekstual siapa nama anak shalih yang hendak dikurbankan Nabi
Ibrahim. Tapi jangan terburu-buru menyimpulkan bahwa anak yang
disembelih itu bukan Nabi Ismail. Semakin keliru pula kesimpulan
Penginjil Kalangi bila dari ayat-ayat ini disimpulkan bahwa anak
Ibrahim yang hendak dikurbankan adalah Ishaq. Bukankah dalam ayat-ayat
tersebut juga tidak terdapat nama Ishaq?
Setelah membaca ayat 100-111 yang mengisahkan kronologis pengurbanan,
teruskan membaca hingga ayat 112. Setelah proses pengorbanan selesai
dilakukan Nabi Ibrahim, surat Ash-Shaffat 112 memberitakan kelahiran
Nabi Ishaq.
"Dan Kami beri dia kabar gembira dengan kelahiran Ishaq seorang Nabi
yang termasuk orang-orang yang saleh" (Qs As-Shaffat 112).
Jika Nabi Ishaq lahir setelah terjadinya peristiwa penyembelihan, maka
dapat disimpulkan secara otomatis anak shalih yang hendak dikurbankan
Ibrahim itu pastilah Nabi Ismail. Mustahil Nabi Ibrahim mengorbankan
Ishaq, karena saat prosesi qurban dilakukan, Ishaq belum lahir.
Kesimpulan ini semakin jelas bila dibaca dalam nas Al-Qur'an dalam
bahasa aslinya: "wa basy-syarnaahu bi ishaaqa nabiyyan
minas-shalihin." Huruf "wawu" dalam kata "wa basy-syarnaahu" (Dan Kami
beri dia kabar gembira), dalam ilmu nahwu disebut wawu 'athaf
littartiibi bil-ittishaal, yaitu huruf wawu penghubung (conjunction)
antara dua kalimat yang menunjukkan urutan kronologis dua peristiwa
yang terjadi secara berurutan.
Sebuah hadits riwayat dari Al-Hakim dalam Al-Manaqib meneguhkan
kesimpulan ini. Rasulullah SAW bersabda: "Aku adalah keturunan dari
dua orang bapak yang hampir disembelih" (ana ibnu adz-dzabiihain).
Dalam silsilah Rasulullah, dua orang yang hampir disembelih itu antara
lain: pertama, Nabi Ismail yang hampir disembelih ayahandanya, Nabi
Ibrahim. Kedua, Abdullah, ayahanda Nabi yang hampir disembelih karena
adar jahiliyah.
Disebutkan dalam sejarah bahwa Abdul Muthalib, kakek Rasulullah,
pernah bernazar kalau diberi karunia 10 anak laki-laki maka akan
menyembelih satu sebagai qurban. Lalu jatuhlah undian kepada Abdullah,
ayah Rasulullah. Mendengar itu kaum Quraisy melarangnya agar tidak
diikuti generasi setelah mereka, akhirnya Abdul Muthalib sepakat untuk
menebusnya dengan 100 ekor onta.
Karena dua kisah inilah, maka suatu hari seorang Baduy memanggil
Rasulullah SAW, "Hai anak dua orang sembelihan" beliau hanya
tersenyum. Dua orang sembelihan itu adalah Ismail dan Abdullah bin
Abdul Muthalib.
KISAH QURBAN DALAM BIBEL TERBALIK-BALIK
Setelah puas menghina Al-Qur'an salah kaprah dan tidak jelas dalam
kisah Qurban, Penginjil Kalangi memuji-muji Bibel sebagai kitab yang
rasional dalam kisah qurban. Menurutnya, Bibel secara tegas, jelas dan
tidak ragu-ragu menyatakan dalam Kitab Kejadian 22:1-19 bahwa anak
Abraham (Ibrahim) yang hendak dikurbankan adalah Ishak, bukan Ismael.
Kalangi menulis:
"Kita telah menyaksikan di atas betapa buruk dan rancunya 'wahyu'
Allah SWT (Al-Qur'an, pen.) ketika Ia harus mewahyu-ulang apa-apa yang
telah diturunkan dengan segenap otoritas kedalam Taurat Musa, seperti
yang termaktub dalam Alkitab 2600 tahun sebelumnya.
Simaklah Kitab Kejadian 22: 1-19. Tampak betapa lancar, utuh, logis
dan penuh otoritasnya pasal tersebut sebagai buah Firman, ketimbang
ayat-ayat Quran yang berantakan dalam kisah "korban sembelihan."
Baiklah, mari kita baca ayat-ayat Bibel tersebut dibaca dengan teliti.
Pada ayat 22:2 tertulis sebagai berikut:
"Firman-Nya: "Ambillah anakmu yang tunggal itu, yang engkau kasihi,
yakni Ishak, pergilah ke tanah Moria dan persembahkanlah dia di sana
sebagai korban bakaran pada salah satu gunung yang akan Kukatakan
kepadamu" (Kejadian 22:2).
Atas dasar ayat inilah umat Kristen mengklaim bahwa anak yang hendak
dikorbankan Abraham adalah Ishak, bukan Ismael. Benarkah kesimpulan
ini? Mari kita kritisi!
Nama Ishak dalam Kejadian 22:2 yang disebut sebagai "anak tunggal
Abraham" itu patut dipertanyakan. Karena fakta-fakta dalam Bibel
menyebutkan bahwa Ismael dalam Alkitab berusia lebih tua 14 tahun
dibandingkan adiknya, Ishak. Karena Ismael dilahirkan ketika Abraham
berusia 86 tahun (Kej 16:16) dan Ishak dilahirkan ketika Abraham
berusia 100 tahun (Kej 21:5).
Secara otomatis, Ismael pernah jadi anak tunggal Abraham selama 14
tahun. Sedangkan Ishak tidak pernah jadi anak tunggal Abraham, karena
sampai akhir hayat Abraham, Ismael dan Ishak sama-sama masih hidup.
Buktinya, mereka berdua bersama-sama menguburkan Abraham ke
pemakamannya di gua Makhpela di padang Efron bin Zohar (Kej. 25:9).
Jika faktanya Ismael pernah jadi anak tunggal Abraham selama 14 tahun,
sedangkan Ishak tidak pernah menjadi anak tunggal Abraham, kenapa ada
ayat yang menyebut Ishak sebagai anak tunggal Abraham?
Jika Penginjil Kalangi ingin memaksakan pendapatnya bahwa anak tunggal
Abraham yang hendak dikurbankan adalah Ishak, maka Bibel harus
direvisi. Nama Ismail dalam Kej 16:16 harus diganti menjadi Ishak,
kemudian nama Ishak dalam Kej 25:9 harus diganti dengan Ismael.
Jika Penginjil Kalangi ingin memaksakan pendapatnya bahwa anak tunggal
Abraham yang hendak dikurbankan adalah Ishak, maka Bibel harus
direvisi. Nama Ismail dalam Kej 16:16 harus diganti menjadi Ishak,
kemudian nama Ishak dalam Kej 25:9 harus diganti dengan Ismael. Dengan
demikian, tepatlah sebutan bahwa Ismael adalah "anak tunggal Abraham."
Tentunya, harus diikuti dengan revisi banyak ayat menyangkut tukar
guling nama Ismael dan Ishak.
Untuk menutupi kekeliruan ayat tersebut, Kalangi ngotot menyatakan
Ishak sebagai anak tunggal Abraham karena Ismael bukan anak sah
Abraham, tapi anak rekayasa. Kalangi menulis sbb:
"Di mata Tuhan, Ia sendiri malahan menetapkan Ishak sebagai anak
tunggal, artinya satu-satunya anak Abraham yang sejati!... Maka di
hadapan Allah, Ismail bukanlah betul-betul keturunan Abraham yang
hakiki, melainkan seorang "anak-rekayasa" kedagingan hasil akal-akalan
Sara."
Pernyataan ini justru menambah ruwet masalah teologi kristiani. Soal
status anak tunggal belum selesai, malah ditambah dengan masalah baru
tuduhan keji terhadap Siti Sarah sebagai wanita licik yang pandai main
rekayasa dan akal-akalan. Secara tidak langsung pernyataan itu juga
melecehkan Abraham sebagai suami tidak cerdas yang mudah diakal-akali
istrinya.
Berdasarkan Bibel sendiri, tidak benar tuduhan penginjil bahwa Ismael
adalah anak rekayasa yang tidak sah sebagai anak tunggal Abraham.
Kitab Kejadian 16:1-4 mengakui bahwa Ismael lahir dari pernikahan
resmi/sah antara Abraham dan Hagar atas restu istri pertamanya, Sara.
Selain itu tak ada satu ayat pun dalam Bibel yang menyebut Ismael
sebagai anak rekayasa yang tidak sah. Faktanya, Bibel sama sekali
tidak membeda-bedakan antara Ismail dan Ishak, keduanya sama-sama
diakui sebagai putra sah Nabi Ibrahim. "Anak-anak Abraham ialah Ishak
dan Ismael" (I Tawarikh 1:28).
Bila penginjil menuduh Ismael sebagai anak rekayasa dan anak yang
tidak sah dari Nabi Ibrahim, otomatis mereka menghina Ibrahim sebagai
nabi yang pernah mengalami kecelakaan iman sehingga menurunkan anak
rekayasa yang tidak sah.
Al-Qur'an membersihkan Nabiyullah Ibrahim dari tuduhan keji penginjil
ini, dengan menggaransi Ibrahim sebagai nabi yang shalih (Al-'Ankabut
27) yang bergelar "Khalilullah" (kesayangan Allah) dalam An-Nisa' 125.
Betapa hebatnya konsep Al-Qur'an! [A. Ahmad Hizbullah MAG/Suara Islam]
syariat qurban. Seorang penginjil yang mengaku bernama Kalangi menulis
artikel berjudul "Syariat Qurban Di Hari Raya Haji, Kini Perlu
Dipertanyakan Muslim" di website http://www.###ring-islam.org.
Kalangi menuding umat Islam salah kaprah merayakan hari Idul Qurban
karena konsep qurban dalam Al-Qur'an tidak jelas, sedangkan konsep
Alkitab (Bibel) sangat jelas dan rasional. Demikian kutipannya:
"Adakah dikatakan di dalam Alkitab dan Al-Qur'an bahwa Ismael itu anak
pengorbanan? Banyak Muslim belum tahu, bahwa jawabannya adalah tidak
ada! Alkitab menegaskan anak itu adalah Ishak, Ishak, dan tak lain
daripada Ishak! Sebaliknya Qur'an ragu-ragu, dan hanya berkata dalam
kekaburan bahwa anak itu adalah "anak" Ibrahim. Kisah Ishak sebagai
anak-pengorbanan telah tertulis di Kitab Taurat 2600 tahun sebelum
Muhammad dilahirkan. Semua nabi-nabi Tuhan tahu bahwa Ishak itulah
anak-yang ingin dikurbankan, tak ada ceritanya sama sekali tentang
Ismail yang "punah" dari sejarah."
Kemudian Penginjil Kalangi mengutip Al-Qur'an surat Ash-Shaffat
100-109 yang menjelaskan asal-usul qurban. Menurut Kalangi, ayat-ayat
Al-Qur'an tersebut sama sekali tidak menyebutkan bahwa anak Nabi
Ibrahim yang akan dikurbankan adalah Ismail, demikian kutipannya:
"Apa yang dapat Anda lihat? Benar, tak ada muncul nama "Ismail" di
situ sebagai anak sembelihan. Kosong! Dan di manapun di Qur'an, nama
anak-pengurbanan itu dikosongkan oleh Muhammad. Yang ada disebut cuma
"sang anak". Tentu hal semacam ini bukan hal yang kebetulan, melainkan
dengan sengaja atau terpaksa."
Kesimpulan Penginjil Kalangi itu seratus persen salah, akibat mengutip
Al-Qur'an surat Ash-Shaffat tak utuh, hanya sampai ayat ke-109.
Seharusnya, jika mengkaji secara benar dan fair, dia harus mengutip
utuh hingga ayat 112.
Bila dibaca utuh ayat 100-112, terutama dengan pemahaman kaidah bahasa
yang benar, maka akan terasa betapa indahnya sastra Al-Qur'an dalam
mengisahkan keteguhan Nabiyullah Ibrahim dan putranya Nabi Ismail.
Keteguhan iman dua orang nabi ayah dan anak yang diabadikan dalam
syariat Idul Qurban.
Bacalah dengan teliti ayat 99-111, dikisahkan tentang tahapan ujian
Allah kepada Ibrahim untuk menyembelih anak kandung yang shalih.
Singkat kata, karena keikhlasan, kesabaran dan kepatuhan Ibrahim
kepada Allah sudah teruji, maka ketika hendak disembelih, Allah
menggantikannya dengan seekor sembelihan (kambing) yang besar (bi
dzibhin 'adhim).
Memang, dalam kisah penyembelihan itu sama sekali tidak disebutkan
secara tekstual siapa nama anak shalih yang hendak dikurbankan Nabi
Ibrahim. Tapi jangan terburu-buru menyimpulkan bahwa anak yang
disembelih itu bukan Nabi Ismail. Semakin keliru pula kesimpulan
Penginjil Kalangi bila dari ayat-ayat ini disimpulkan bahwa anak
Ibrahim yang hendak dikurbankan adalah Ishaq. Bukankah dalam ayat-ayat
tersebut juga tidak terdapat nama Ishaq?
Setelah membaca ayat 100-111 yang mengisahkan kronologis pengurbanan,
teruskan membaca hingga ayat 112. Setelah proses pengorbanan selesai
dilakukan Nabi Ibrahim, surat Ash-Shaffat 112 memberitakan kelahiran
Nabi Ishaq.
"Dan Kami beri dia kabar gembira dengan kelahiran Ishaq seorang Nabi
yang termasuk orang-orang yang saleh" (Qs As-Shaffat 112).
Jika Nabi Ishaq lahir setelah terjadinya peristiwa penyembelihan, maka
dapat disimpulkan secara otomatis anak shalih yang hendak dikurbankan
Ibrahim itu pastilah Nabi Ismail. Mustahil Nabi Ibrahim mengorbankan
Ishaq, karena saat prosesi qurban dilakukan, Ishaq belum lahir.
Kesimpulan ini semakin jelas bila dibaca dalam nas Al-Qur'an dalam
bahasa aslinya: "wa basy-syarnaahu bi ishaaqa nabiyyan
minas-shalihin." Huruf "wawu" dalam kata "wa basy-syarnaahu" (Dan Kami
beri dia kabar gembira), dalam ilmu nahwu disebut wawu 'athaf
littartiibi bil-ittishaal, yaitu huruf wawu penghubung (conjunction)
antara dua kalimat yang menunjukkan urutan kronologis dua peristiwa
yang terjadi secara berurutan.
Sebuah hadits riwayat dari Al-Hakim dalam Al-Manaqib meneguhkan
kesimpulan ini. Rasulullah SAW bersabda: "Aku adalah keturunan dari
dua orang bapak yang hampir disembelih" (ana ibnu adz-dzabiihain).
Dalam silsilah Rasulullah, dua orang yang hampir disembelih itu antara
lain: pertama, Nabi Ismail yang hampir disembelih ayahandanya, Nabi
Ibrahim. Kedua, Abdullah, ayahanda Nabi yang hampir disembelih karena
adar jahiliyah.
Disebutkan dalam sejarah bahwa Abdul Muthalib, kakek Rasulullah,
pernah bernazar kalau diberi karunia 10 anak laki-laki maka akan
menyembelih satu sebagai qurban. Lalu jatuhlah undian kepada Abdullah,
ayah Rasulullah. Mendengar itu kaum Quraisy melarangnya agar tidak
diikuti generasi setelah mereka, akhirnya Abdul Muthalib sepakat untuk
menebusnya dengan 100 ekor onta.
Karena dua kisah inilah, maka suatu hari seorang Baduy memanggil
Rasulullah SAW, "Hai anak dua orang sembelihan" beliau hanya
tersenyum. Dua orang sembelihan itu adalah Ismail dan Abdullah bin
Abdul Muthalib.
KISAH QURBAN DALAM BIBEL TERBALIK-BALIK
Setelah puas menghina Al-Qur'an salah kaprah dan tidak jelas dalam
kisah Qurban, Penginjil Kalangi memuji-muji Bibel sebagai kitab yang
rasional dalam kisah qurban. Menurutnya, Bibel secara tegas, jelas dan
tidak ragu-ragu menyatakan dalam Kitab Kejadian 22:1-19 bahwa anak
Abraham (Ibrahim) yang hendak dikurbankan adalah Ishak, bukan Ismael.
Kalangi menulis:
"Kita telah menyaksikan di atas betapa buruk dan rancunya 'wahyu'
Allah SWT (Al-Qur'an, pen.) ketika Ia harus mewahyu-ulang apa-apa yang
telah diturunkan dengan segenap otoritas kedalam Taurat Musa, seperti
yang termaktub dalam Alkitab 2600 tahun sebelumnya.
Simaklah Kitab Kejadian 22: 1-19. Tampak betapa lancar, utuh, logis
dan penuh otoritasnya pasal tersebut sebagai buah Firman, ketimbang
ayat-ayat Quran yang berantakan dalam kisah "korban sembelihan."
Baiklah, mari kita baca ayat-ayat Bibel tersebut dibaca dengan teliti.
Pada ayat 22:2 tertulis sebagai berikut:
"Firman-Nya: "Ambillah anakmu yang tunggal itu, yang engkau kasihi,
yakni Ishak, pergilah ke tanah Moria dan persembahkanlah dia di sana
sebagai korban bakaran pada salah satu gunung yang akan Kukatakan
kepadamu" (Kejadian 22:2).
Atas dasar ayat inilah umat Kristen mengklaim bahwa anak yang hendak
dikorbankan Abraham adalah Ishak, bukan Ismael. Benarkah kesimpulan
ini? Mari kita kritisi!
Nama Ishak dalam Kejadian 22:2 yang disebut sebagai "anak tunggal
Abraham" itu patut dipertanyakan. Karena fakta-fakta dalam Bibel
menyebutkan bahwa Ismael dalam Alkitab berusia lebih tua 14 tahun
dibandingkan adiknya, Ishak. Karena Ismael dilahirkan ketika Abraham
berusia 86 tahun (Kej 16:16) dan Ishak dilahirkan ketika Abraham
berusia 100 tahun (Kej 21:5).
Secara otomatis, Ismael pernah jadi anak tunggal Abraham selama 14
tahun. Sedangkan Ishak tidak pernah jadi anak tunggal Abraham, karena
sampai akhir hayat Abraham, Ismael dan Ishak sama-sama masih hidup.
Buktinya, mereka berdua bersama-sama menguburkan Abraham ke
pemakamannya di gua Makhpela di padang Efron bin Zohar (Kej. 25:9).
Jika faktanya Ismael pernah jadi anak tunggal Abraham selama 14 tahun,
sedangkan Ishak tidak pernah menjadi anak tunggal Abraham, kenapa ada
ayat yang menyebut Ishak sebagai anak tunggal Abraham?
Jika Penginjil Kalangi ingin memaksakan pendapatnya bahwa anak tunggal
Abraham yang hendak dikurbankan adalah Ishak, maka Bibel harus
direvisi. Nama Ismail dalam Kej 16:16 harus diganti menjadi Ishak,
kemudian nama Ishak dalam Kej 25:9 harus diganti dengan Ismael.
Jika Penginjil Kalangi ingin memaksakan pendapatnya bahwa anak tunggal
Abraham yang hendak dikurbankan adalah Ishak, maka Bibel harus
direvisi. Nama Ismail dalam Kej 16:16 harus diganti menjadi Ishak,
kemudian nama Ishak dalam Kej 25:9 harus diganti dengan Ismael. Dengan
demikian, tepatlah sebutan bahwa Ismael adalah "anak tunggal Abraham."
Tentunya, harus diikuti dengan revisi banyak ayat menyangkut tukar
guling nama Ismael dan Ishak.
Untuk menutupi kekeliruan ayat tersebut, Kalangi ngotot menyatakan
Ishak sebagai anak tunggal Abraham karena Ismael bukan anak sah
Abraham, tapi anak rekayasa. Kalangi menulis sbb:
"Di mata Tuhan, Ia sendiri malahan menetapkan Ishak sebagai anak
tunggal, artinya satu-satunya anak Abraham yang sejati!... Maka di
hadapan Allah, Ismail bukanlah betul-betul keturunan Abraham yang
hakiki, melainkan seorang "anak-rekayasa" kedagingan hasil akal-akalan
Sara."
Pernyataan ini justru menambah ruwet masalah teologi kristiani. Soal
status anak tunggal belum selesai, malah ditambah dengan masalah baru
tuduhan keji terhadap Siti Sarah sebagai wanita licik yang pandai main
rekayasa dan akal-akalan. Secara tidak langsung pernyataan itu juga
melecehkan Abraham sebagai suami tidak cerdas yang mudah diakal-akali
istrinya.
Berdasarkan Bibel sendiri, tidak benar tuduhan penginjil bahwa Ismael
adalah anak rekayasa yang tidak sah sebagai anak tunggal Abraham.
Kitab Kejadian 16:1-4 mengakui bahwa Ismael lahir dari pernikahan
resmi/sah antara Abraham dan Hagar atas restu istri pertamanya, Sara.
Selain itu tak ada satu ayat pun dalam Bibel yang menyebut Ismael
sebagai anak rekayasa yang tidak sah. Faktanya, Bibel sama sekali
tidak membeda-bedakan antara Ismail dan Ishak, keduanya sama-sama
diakui sebagai putra sah Nabi Ibrahim. "Anak-anak Abraham ialah Ishak
dan Ismael" (I Tawarikh 1:28).
Bila penginjil menuduh Ismael sebagai anak rekayasa dan anak yang
tidak sah dari Nabi Ibrahim, otomatis mereka menghina Ibrahim sebagai
nabi yang pernah mengalami kecelakaan iman sehingga menurunkan anak
rekayasa yang tidak sah.
Al-Qur'an membersihkan Nabiyullah Ibrahim dari tuduhan keji penginjil
ini, dengan menggaransi Ibrahim sebagai nabi yang shalih (Al-'Ankabut
27) yang bergelar "Khalilullah" (kesayangan Allah) dalam An-Nisa' 125.
Betapa hebatnya konsep Al-Qur'an! [A. Ahmad Hizbullah MAG/Suara Islam]

Tidak ada komentar:
Posting Komentar